

PERAWAN BANDUNG II

 

 

Setelah kejadian di rumah Pipit. Saya sempat jalan bersamanya berkeliling kota
Bandung. Kami pergi ke BIP, ke Lembang dan discothique LA. Tetapi kami tidak
mempunyai kesempatan lagi untuk berduaan karena tidak ada tempat yang aman untuk
melakukannya.

Hingga suatu hari, setelah satu minggu kami tidak bertemu karena saya harus
kembali ke Jakarta, secara tidak sengaja saya bertemu dengannya. Saya masih
ingat hari itu adalah hari Sabtu tanggal 12 Juli 1997. Pagi-pagi saya sudah
bangun dan dengan menggunakan sepeda motor saya pergi ke warung di depan komplek
untuk membeli susu murni. Menjelang tes fisik Akpol saya memang rutin meminum
susu murni untuk membersihkan paru-paru saya.


Ketika saya sedang membayar susu, tiba-tiba saya dikejutkan olehnya," Hai Yan,
lagi ngapain disini?", saya terkejut tetapi keterkejutan saya berganti dengan
kegembiraan. "Hai, gue lagi beli susu, kamu mau berangkat kerja ya?", tanya
saya." iya nih, maklum hari sabtu, waktunya gajian", katanya sambil tertawa.
Tiba-tiba muncul rencana saya untuk membawanya ke tempat yang save buat
bermesraan. " Pit, udahlah daripada kerja mendingan temenin Iyan jalan-jalan
yuk", ajak saya. Dia sejenak tampak ragu-ragu, tetapi akhirnya " Bolehlah,
tetapi kita mau kemana Yan","Kemana saja, yang penting jalan-jalan", jawab
saya." Tapi Pit, kamu tunggu saya dulu di kios phone ya, soalnya Iyan mau pamit
dulu sama pakde", Pipit mengangguk.

Saya segera pulang ke rumah pakde sambil membayangkan rejeki yang bakal saya
dapat hari ini. Setelah basa-basi dengan pakde, saya segera menuju kios phone
menggunakan sepeda motor. Di kios phone Mas Dawi tampak senyum-senyum melihat
saya datang." Mau kemana nih, jangan lupa oleh-olehnya ya", kata Mas Dawi." Mau
jalan-jalan mas, ayo Pit, kita berangkat", jawab saya.

Enggak lama sepeda motor saya pacu menuju Jalan Astana Anyar, disana saya sempat
melihat sebuah motel ketika saya sedang jalan-jalan dulu. Otak saya berputar
memikirkan cara agar saya bisa membawa Pipit masuk ke dalam motel itu." Oh ya
Pit, kita mampir dulu yuk ke tempat teman saya, kebetulan teman saya sedang
menginap di motel", pancing saya."Ah, Pipit malu Yan","Enggak usah malu Pit,
orang temen baik Iyan kok", rayu saya."Iya deh", jawabnya membuat hati saya
berbunga-bunga.

Akhirnya sepeda motor sampai di tempat parkir motel Budi Asih, saya suruh Pipit
menunggu sementara saya mengurus registrasi. Selesai registrasi saya menghampiri
Pipit," Pit, teman Iyan sedang keluar, mendingan kita menunggu di kamarnya yuk",
pancing saya. Diapun menurut dan mengikuti saya menuju kamar di lantai dua.
Sesampainya di kamar saya duduk di tepi ranjang sementara Pipit duduk di
kursi."Pit, duduk sini dong, Iyankan kangen sama kamu", Pipit bergerak kearah
saya dan langsung saya rangkul tubuhnya.


Saya mulai melumat bibirnya, diapun membalas permainan saya. Sedang asik-asiknya
tiba-tiba kamar kami diketuk. Saya langsung bangkit membuka pintu,"Siapa?","Room
service mas", jawab orang di luar sana. Sayapun membukakan pintu,"Maaf mas, saya
membawakan handuk dan minuman", katanya."Makasih ya mas", kata saya sambil
memberi tip padanya. Pipit tersenyum ketika room boy itu meninggalkan kamar.
Saya gregetan dan langsung menubruknya, saya tindih badannya yang seksi sambil
bibirnya saya sedot.

Saya mulai meningkatkan permainan, tubuhnya saya elus dari bawah sampai atas.
Tangan saya berhenti di atas payudaranya yang membusung."Ah Yan, aku sudah rindu
sama kamu", katanya di antara desahan napasnya. Saya mulai membuka kaos dan
BH-nya dan dengan rakus saya ciumi kedua bukit kembarnya. Pipit menggelinjang
kegelian ketika puting susunya saya jilati. Untuk memancing napsunya, saya buka
baju dan celana saya sehingga saya akhirnya telanjang bulat, burung saya tampak
sudah berdiri mengacung sementara Pipit tampak menikmati pemandangan yang ada di
depannya. Taktik saya ternyata berhasil, terbukti Pipit tampak pasrah ketika
saya melucuti pakaiannya sampai bugil. Saya terkagum melihat tubuhnya yang super
seksi, barangkali seperti ini jika Krisdayanti sedang telanjang, batin saya.

" Pit, sepong gue dong..", pinta saya sambil saya sodorkan kontol saya
kemukanya. Tanpa banyak tanya dia langsung memasukan kontol saya ke dalam
mulutnya. Pipit memang ahli dalam hal oral sex, lidahnya seperti besi panas
menjilat-jilat kontol saya di dalam mulutnya, kepalanya bergerak maju mundur
sementara tangannya mempermainkan testis saya." Akkhh...enak Pit, teruskan",
desah saya. Sementara mata saya menatap ke selangkangannya, di sana saya lihat
bulu-bulu yang masih jarang menutupi tonjolan memeknya. Sayapun mulai
mengusap-usap vaginanya," Ekkhh..", pipit mendesah ketika telunjuk saya mengenai
klitorisnya, hal ini membuat Pipit semakin bersemangat mengocok-ngocok kontol
saya. Rasanya luar biasa melihat kontol saya keluar masuk mulutnya yang mungil,
sementara saya rasakan jari-jari tangan saya sudah basah oleh lendir vaginanya.

Saya tidak mau membuang waktu, langsung saya ambil posisi di atas tubuhnya yang
putih mulus khas tubuh mojang priangan. Tetapi Pipit merapatkan pahanya," Yan,
saya takut, Pipit masih perawan", bisiknya. Sayapun tak kehilangan akal," Pit,
Iyan sayang Pipit, sebentar lagi Iyan masuk Akpol, kalau Pipit sayang Iyan, Iyan
minta buktinya", rayu saya. Akhirnya dengan ragu-ragu Pipit mulai merenggangkan
kedua pahanya.

Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, langsung saya arahkan kepala
kontol saya ke lubang memeknya. Ternyata sulit sekali memasukan kontol ke liang
vagina yang masih perawan. beberapa kali kepala kontol saya terpeleset. Namun
akhirnya kepala kontol saya berhasil masuk ke vaginanya. Pipit tampak meringis
menahan sakit. Saya bergerak memegangi kedua tangannya takut kalau dia berubah
pikiran dan mendorong badan saya. " Yan..Akhh..sakit..", rintihnya
terputus-putus ketika saya dorong kontol saya lebih dalam lagi. Akhirnya saya
mulai mendayung pantat saya perlahan karena kontol saya tidak bebas bergerak
terjepit lobang memek yang perawan. Semakin lama gerakan saya semakin cepat di
iringi desah dari mulut saya dan mulut Pipit. Pipit mulai menikmati permainan
ini karena secara reflek pantatnyapun mulai bergerak-gerak. " Akhh.. Pit..
nikmat sekali memekmu", bisik saya ditelinganya sambil terus menciumi daerah di
sekitar daun telingannya. Tidak berapa lama Pipit mulai mengejan!
g, mungkin karena baru pertama kali sehingga dia cepat mencapai orgasme. " Yan..
saya.. sudah.. mau.. ke..lu..aaarr", jeritnya sambil kuku-kuku tangannya
menancap di punggung saya. Saya merasakan cairan hangat membanjiri batang kontol
saya di lobang memeknya. Sayapun mulai merasa kejang karena jepitan lobang
memeknya membuat kontol saya seperti diremas-remas. Akhirnya, "Akhh..
Pit..Iyan..sudah.... enggak..tahan..", jerit saya, mulut saya sibuk menyedot
bibirnya sementara pantat saya tekan kuat-kuat dan " Crottt...", muncratlah
sperma saya di dalam lobang memeknya.

Saya cabut kontol saya dan melihat sperma saya keluar dari lobang memeknya
bercampur dengan tetesan darah. Pipit meringis menahan sakit, dia mulai
menangis, " Yan, kamu harus bertanggung jawab", katanya, " Tenang Pit, Iyan akan
bertanggung-jawab, tetapi kamu harus menunggu Iyan menyelesaikan pendidikan",
kata saya menenangkan. Akhirnya kami tertidur kelelahan sambil berpelukan.


Dua jam kemudian kami bangun, sebelum pulang kami berdua membersihkan diri
bersama-sama. Pada kesempatan itu kami melakukan hubungan sex sekali lagi di
kamar mandi sambil berdiri. Saya puas karena cita-cita saya untuk meniduri Pipit
terlaksana.


Saat ini saya masih berstatus Calon Perwira Akpol, saya menulis cerita ini
ketika saya sedang libur. Hubungan saya dengan Pipit terputus karena paman saya
dipindahkan ke Mabes Polri dan rumah paman di Bandung sudah dijual. Tetapi saya
bertekad, jika saya sudah lulus nanti, saya akan datang ke Bandung untuk menemui
Pipit dan melamarnya.

 

Pengirim: indo (indomedia@myway.com)

 

Penilaian Pembaca: Bagus = 100%, Cukup = 0%, Jelek = 0%

 

     
